Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Unila

Dosen Kimia Unila Ajari Warga Rejomulyo Buat Pupuk Kompos Berbasis Eco-enzyme

62
×

Dosen Kimia Unila Ajari Warga Rejomulyo Buat Pupuk Kompos Berbasis Eco-enzyme

Sebarkan artikel ini

BANDAR LAMPUNG – Warga Desa Rejomulyo, Lampung Selatan, mendapatkan ilmu baru tentang cara membuat pupuk kompos berbasis eco-enzyme dari dosen Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program MBKM BKP Membangun Desa yang diikuti mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA Unila.
Kegiatan pendampingan pembuatan pupuk kompos berbasis eco-enzyme ini berlangsung pada Rabu, 20 September 2023, di Balai Desa Rejomulyo. Hadir dalam kegiatan ini Kepala Desa Rejomulyo Tushandoro, Sekretaris Desa Rejomulyo Hartono, aparat Desa Rejomulyo, ibu-ibu PKK Dusun dan PKK Desa Rejomulyo, serta Dr. Agung Abadi Kiswandono, M.Sc., selaku koordinator program MBKM BKP Membangun Desa Jurusan Kimia FMIPA Unila.

Narasumber yang memberikan materi dan praktik pembuatan pupuk kompos berbasis eco-enzyme yakni Dr. Dra. Ilim, M.S., dosen Jurusan Kimia FMIPA Unila yang ahli di bidang kimia organik. Ia menjelaskan, eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik seperti limbah sayur dan buah, air, dan gula aren. Eco-enzyme dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat pupuk kompos berkualitas dan ramah lingkungan.

Proses pembuatan eco-enzyme cukup mudah dan murah. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah 3 kg limbah sayur atau buah, 10 liter air, dan 1 kg gula aren yang sudah dicairkan. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam ember, diaduk, ditutup rapat, dan diberi label tanggal pembuatan. Ember tersebut harus disimpan di tempat teduh dan kering. Setiap seminggu sekali, ember harus dibuka dan diaduk kembali. Setelah tiga bulan, eco-enzyme siap digunakan.

Untuk membuat pupuk kompos berbasis eco-enzyme, diperlukan 100 ml eco-enzyme, 8 kg kotoran hewan, dan 2 kg jerami atau sekam padi. Bahan-bahan tersebut dicampur di atas terpal, ditutup rapat, dan disimpan di tempat yang teduh dan kering. Setiap tiga hari sekali, pupuk harus dibalik dan diukur suhunya. Jika suhu sudah mencapai 60 derajat celcius atau lebih, pupuk sudah matang dan siap digunakan.

Peserta kegiatan sangat antusias mengikuti materi dan praktik pembuatan pupuk kompos berbasis eco-enzyme. Mereka berharap dapat menerapkan ilmu yang didapat untuk meningkatkan produktivitas pertanian di desanya. Selain itu, mereka mengapresiasi program MBKM BKP Membangun Desa Jurusan Kimia FMIPA Unila yang telah memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Rejomulyo. (*)